
JAKARTA || Pertanyaan ini menggelitik saya saat membaca berita mundurnya Anggota DPR Partai PAN Arisal Aziz dari Ketua DPW PAN Sumbar.
Satu hal yang menjadi konsen saya adalah, pribadi Arisal Aziz yang terbuka. Suka dia jalani, tidak suka dia tinggalkan.
Ternyata benar. Ada mislike antara dirinya sebagai Ketua DPW dengan DPP PAN, dimana usulan 19 calon pengurus PAN Sumbar yang diusulkan Arisal Azis tidak dipenuhi oleh DPP PAN.
Artinya, ada perbedaan pandang antara Arisal Aziz dengan DPP PAN dalam melihat usulan Arisal Aziz, setelah dirinya terpilih sebagai Ketua DPW PAN Sumbar.
DPP PAN sama sekali tidak bergeming dengan usulan Arisal Aziz meski Arisal Aziz sangat dikenal sebagai calon anggota DPR RI PAN asal pemilihan Sumbar yang sangat loyal.
Dialah salah satu calon anggota DPR yang membagi bagikan mobil ambulance ke 19 kabupaten dan kota se Sumbar dan paling aktif membagikan sembako kepada masyarakat di daerah pemilihannya.
Dengan terpilihnya Arisal Aziz sebagai anggota DPR RI, PAN langsung mengubah konstelasi politik di Sumbar, termasuk peta pemilihan calon Gubernur Sumbar. Sejumlah kalangan di Sumbar dan Jakarta langsung memposisikan nama Arisal Aziz sebagai calon Gubernur Sumbar.
Alasannya sangat logis, karena Arisal Aziz meraih suara terbanyak pada Pileg lalu, dan Arisal Aziz punya pundi pundi besar untuk bertarung menjadi calon gubernur Sumbar. Padahal, Arisal Aziz sendiri sama sekali tidak pernah bicara ingin menjadi Cagub Sumbar.
Tetapi langkah langkah politik Arisal Aziz cukup terukur. Setelah terpilih menjadi anggota DPR, Arisal Aziz langsung diminta menjadi Ketua DPW PAN. Namun sebelum programnya berjalan, Arisal Aziz sudah kesandung. DPPnya sendiri yang tidak memberikan dukungan kepada Arisal Aziz untuk membesarkan PAN di Sumbar. Kita tidak tau persis mengapa Arisal Aziz berbeda pandang dalam melihat usulan kepengurusan yang diajukan Arisal Aziz.
Tetapi sepertinya, sudah dapat diduga, sudah terjadi pembusukan sejak awal terpilihnya Arisal Aziz. Kuat dugaan, ada yang tidak suka Arisal Aziz eksis di Sumbar. Sebab itu akan mengganggu dinamika politik PAN ke depannya.
Ditambahkan lagi, Arisal Aziz bukan tipologi orang politik murni. Dia adalah pengusaha cargo sukses yang berangkat dari jenjang paling bawah. Arisal Aziz bukan politisi sekolahan yang bisa melihat dinamika politik dari dimensi politik itu sendiri.
Arisal Aziz adalah pribadi yang punya cita cita luhur membangun keakraban politik dengan masa pendukungnya. Sekaligus punya harapan membangun kesejahteraan rakyat. Untuk itu, Arisal Aziz mau berhabis habisan secara finansial.
Tetapi ruang politik tetap saja milik kepentingan. Dalam politik, tidak ada kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan.
Sikap Arisal Aziz sudah benar. Sebab jika dia bereskalasi atas keputusan DPP PAN, maka Arisal Aziz akan mendapat tekanan lain untuk kepentingan PAW. Sebab orang dibawah Arisal Aziz pasti punya harapan untuk bisa maju dalam proses PAW.
Atau sebaliknya, dengan modal mundurnya Arisal Azis ini juga sudah menjadi modal bagi barisan sakit hati terhadap Arisal Aziz untuk mengkudeta dirinya melalui PAW.
Sebab figur Arisal Azis sangat disukai oleh partai politik, terutama dari sisi keberanian Arisal Azis dalam mengucurkan dana untuk membiayai konstituen partai. Itu sudah dibuktikan Arisal Azis.
Jadi, jangan ganggu lagi Arisal Azis!
Awaluddin Awe
Wartawan Senior Sumbar, Pemerhati Politik dan Sosial, tinggal di Jakarta